Sabtu, 14 Desember 2013

Sekilas tentang "HANGESTHI TURONGGO BUDHOYO"


Pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah mempercepat berubahnya nilai-nilai sosial dan mempengaruhi semua sendi-sendi kehidupan dalam segala bidang. Tak terkecuali bidang kesenian dan kebudayaan. Hal ini tentu dibutuhkan pelaku seni dan budaya, terutama pelaku seni dan budaya tradisional. Kesenian tradisional yang benar-benar mampu bersaing di tengah kian menjamurnya kesenian modern. Terlebih kesenian modern yang ada saat ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan barat yang cukup memiliki perbedaan pandangan dan konsep. Terutama dari sudut pandang moralitas. Untuk itu tidaklah berlebihan bila dibutuhkan kelompok-kelompok seni tradisional yang diharapkan dapat menjadi penyeimbang terhadap perkembangan seni saat ini.
Bagi sebuah masyarakat, kesenian, terutama kesenian kerakyatan merupakan salah satu alat pemersatu yang cukup ampuh. Dalam acara perayaan desa beraneka ragam kesenian dipertontonkan, termasuk kesenian. Dalam kesenian kerakyatan yang biasanya melibatkan orang banyak, penduduk di daerah itu berkumpul, menari, dan bergembira bersama. Sehingga, warga yang berkumpul dan bergembira itu pun melalui kesenian ini mereka dapat berinterkasi, bergaul, dan berkomunikasi, menciptakan hubungan yang lebih baik antar warga masyarakat.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka kami pemuda karang taruna Desa Ngalangan akhirnya pada tahun 1995 membentuk sebuah kelompok seni tradisional yaitu kesenian Jathilan. Kesenian Jathilan ini berkembang sangat baik dan mampu bertahan sampai pada  tahun 2007. Hal ini menunjukan bahwa kesenian ini diterima oleh masyarakat luas. Kesenian jathilan ini pun telah mendapatkan beberapa penghargaan dari beberapa kabupaten yang ada di Yogyakarta. Bahkan kesenian ini mampu menembus hingga luar daerah seperti Magelang, Kebumen, dan Karangaanyar
Seiring dengan berjalannya waktu, kelompok kesenian ini beransur-angsur pudar. Hal ini disebabkan oleh perubahan cara pandang dan kebutuhan kehidupan oleh para pemainnya, mengundurkan diri, mereka mencari penghidaupan yang lebih baik. Tentu hal ini mempengaruhi kelangsungan hidup kegiatan Jathilan tersebut.
dengan perjuangan keras dan kemauan dan tekad yang tinggi, akhirnya pada bulan Oktober 2013 kami sepakat untuk menghidupkan kembali kesenian jathilan tersebut dan berharap warisan budaya kesenian jathilan dapat lestari dan dapat kita wariskan lagi kepada anak cucu kita kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar